July 6, 2015

SEKILAS TENTANG MARRIAGE ENCOUNTER (ME)

“Tidak dikenal maka tidak disayang” adalah suatu ungkapan lama tetapi masih tetap relevan untuk dikutip saat ini. Buktinya, beberapa gerakan pembaruan dalam gereja Katolik seperti misalnya Persekutuan Karismatik dan Marriage Encounter bagi sebagian umat masih dirasakan sebagai sesuatu yang asing dan tidak perlu dikenal.

Harapan kami uraian berikut ini dapat membawa umat untuk mengenal Marriage Encounter dan syukur-syukur pada tahapan berikutnya akan tertarik untuk ikut bergabung.

Apakah ME itu ?

Marriage Encounter adalah suatu gerakan pembaruan dalam Gereja Katolik yang berawal dari Barcelona, Spanyol pada tahun 1952. Tujuan dari gerakan ini adalah membina kehidupan keluarga Kristiani yang bahagia.

Ada dua konsep utama dalam gerakan ME yaitu :

  1. Kemanunggalan suami-isteri.
    Untuk tercapainya persatuan yang utuh dan padu antara pasangan suami-isteri diperlukan keterbukaan satu sama lain. Juga diharapkan masing-masing pihak dapat menerima pasangannya secara total, apa adanya . Untuk dapat mencapai tujuan ini diperlukan komunikasi/dialog yang baik antara pasangan suami-isteri.
  2. Pembaruan Sakramen Perkawinan dan Sakramen Imamat.
    Selain dipanggil untuk “manunggal”, pasangan suami-isteri juga dipanggil untuk menjadi pasangan sakramental. Diharapkan hidup perkawinan mereka dapat menjadi tanda atau pantulan dari cintakasih Kristus.
    Demikian juga para imam diharapkan dapat menyelaraskan segala sikap, tingkah laku , tindakan dan ucapan mereka dengan jiwa cintakasih Kristus.

Keikutsertaan dalam ME dimulai dengan mengikuti Weekend ME yang berlangsung selama dua hari (Jumat sore s/d Minggu sore), untuk KAJ bertempat di Wisma Samadi Shalom Sindanglaya. Dalam Weekend tersebut pasutri(pasangan suami isteri) peserta akan dibekali dengan cara-cara meningkatkan relasi suami isteri , dengan penekanan pada cara berkomunikasi yang lebih baik.

Sejarah ME di tanah air

Di Indonesia sendiri gerakan ME diprakarsai oleh almarhum Mgr Leo Soekoto SJ yang sewaktu kunjungannya ke Eropah pada tahun 1975 mendengar tentang adanya gerakan ME tersebut. Tertarik akan tujuan gerakan ME yaitu membina kehidupan keluarga yang baik, maka Mgr. Leo Soekoto mengutus Romo Adolf Heuken SJ (alm) -yang kebetulan pada waktu itu akan mengikuti ziarah ke Lourdes – untuk mempelajari tentang gerakan ME tersebut. Maka setelah menyelesaikan ziarah, Romo Heuken mampir ke Belgia untuk mencari informasi tentang Gerakan ME. Untuk dapat mengenal gerakan ME dengan baik, Romo Heuken disarankan untuk mengikuti weekend ME, saran mana diikuti oleh Romo Heuken.

Sekembalinya ke tanah air Romo Heuken melaporkan hasil kunjungannya kepada Mgr Leo Soekoto. Selanjutnya disepakati untuk mengundang Romo Guido Herbaut Pr beserta timnya dari Belgia untuk memberikan weekend pertama di Indonesia.

Bertempat di Evergreen Puncak pada tgl. 25-27 Juli 1975 berlangsunglah Weekend pertama diikuti oleh 9 pasutri, 2 orang suster dan 2 orang Imam (salah satunya adalah Mgr. Leo Soekoto sendiri). Peserta Weekend pertama ini dipilih orang-orang yang mengerti bahasa Belanda karena bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Vlaams yang mirip dengan bahasa Belanda.

Pada Weekend berikutnya , tim dari Belgia tersebut memberikan semacam Deeper Weekend bagi 5 pasutri yang telah mengikuti Weeekend pertama, bersama seorang imam yaitu Romo Piet Nooy SVD yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Komisi Kehidupan Keluarga KAJ. Setelah itu Romo Piet Nooy lalu diundang ke Belgia untuk memperoleh latihan khusus. Sepulangnya dari Belgia beliau mengadakan workshop intensif bersama Pasutri Bapak/Ibu Marsidi dan Tony & Greta.

7-9 Mei 1976 adalah Weekend pertama dalam bahasa Indonesia diikuti 10 pasutri dan 2 orang suster. Sejak saat itu ME berkembang dengan pesat dan dalam waktu 6 bulan telah melebarkan sayapnya ke Jawa Tengah. Saat ini ME telah menyebar ke seluruh tanah air dari Sumatera Utara sampai ke Merauke. Jumlah pesertanya telah mencapai kira-kira 30000 orang.

Siapa saja yang dapat mengikuti ME ?

  1. Pasutri
    Usia perkawinan minimum 3 tahun
    • Perkawinan monogami
    • Tidak sedang dalam kemelut rumah tangga
  2. IMAM/SUSTER/BRUDER
    Sebaiknya imamat/kaul kekalnya sudah 3 tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.